seni-budaya

 Tubaba Berwacana Gelar Acara Bertajuk Sharing Time: Megalithic Millennium Art

penulis: Admin | 14 January 2020 19:00 WIB
editor:


 Tubaba Berwacana Gelar Acara Bertajuk Sharing Time Megalithic Millennium Art
 Tubaba Berwacana Gelar Acara Bertajuk Sharing Time Megalithic Millennium Art

Tulang Bawang Barat,KejarFakta.co -
Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba),  akan menggelar acara bertajuk Sharing Time: Megalithic Millennium Art pada tanggal 22-26 Januari 2020 mendatang, bertempat di sejumlah venue Kota Budaya Ulluan Nughik, Sessat Agung, Las Sengok Tiyuh Karta dan Situs Patung Megouw Pak.

Acara ini berisi beberapa sesi kegiatan, di antaranya sarasehan, workshop, dan pementasan seni.

Rencananya acara ini akan dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim. Pejabat Negara yang juga akan hadir adalah Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia) yang akan menjadi pembicara dalam sarasehan dengan tajuk “Membangun Manusia lewat jalan Kebudayaan”.

Para penyaji yang akan hadir adalah; Andy Burnham arkeolog, pendiri dan editor web Megalithic Portal, Inggris, Alex Gebe seniman, anggota Teater Kober, Lampung, Ari Rudenko seniman lintas disiplin dari Amerika Serikat, Anna Thu Schmidt, penari asal Jerman yang menyelesaikan studi masternya di Throndeim, Norwegia, Agus Sangishu Rumah Tari Sangishu, Lampung, dan Bettina Mainz penari, guru dan terapis trauma berbasis di Berlin, Jerman) yang akan pentas kolaborasi bersama suaminya Rodolfo Mertig fisikawan dan putra mereka Sebastian Mainz-Mertig, usia 11 tahun.

Juga akan hadir Daniel Oscar Baskoro, periset asal Yogyakarta yang berbasis di Univesitas Columbia, New York, Amerika Serikat, Dian Anggraini penari dan dosen asal Lampung, Diantori Dihan koreografer, pimpinan Gar Dancestory, Lampung, Edhyitia Rio komposer, anggota Orkes Ba’da Isya, Lampung, Frances Rosario seniman, Amerika Serikat, Prof Dr Haris Sukendar, mantan kepala Badan Arkeologi Nasional, Diane Butler seniman gerak, pimpinan Dharma Nature Time, Bali, Halilintar Latief antroplog, Universitas Negeri Makassar Keith Miller, Inspektorat Monumen Kuno untuk English Heritage, Inggris, Katsura Kan seniman Butoh asal Jepang, Margit Galanter Penyair Tari dan Instigator Kebudayaan, Amerika Serikat, Mara Poliak perfomer, Amerika Serikat, Moris Shakaia Performer, Russia, Peter Chin Performer, Kanada, Rianto penari asal Solo berbasis di Jepang, Sandrayati Fay komposer dan penyanyi asal Ubud, Bali, Transpiosa Riomandha antropolog, Yogyakarta dan Mariana Isa arsitektur dan peneliti, Malaysia.

Siswa-siswa Tubaba yang terpilih juga akan menjadi pembicara dalam acara sarasehan dengan tajuk “Tubaba 100 Tahun Kemudian”. Pada pembukaan acara sejumlah 70 siswa-siswa Sekolah Seni Tubaba akan membawakan Tari Nenemo, selain itu akan ditampilkan pementasan musik Q-Thik, tari Sigeh Pengunten dan Seni Kulintang.

Prosesi lain adalah: penanaman bibit pohon bersama, pelepasan ikan, pelepasan kerbau (panitia masih mikir-mikir) dan peletakan batu di Las Sengok, sebuah wilayah yang kelak akan dikembangkan menjadi hutan lindung Q-Forest, terletak di Tiyuh Karta.

Dijelaskan oleh Ketua Panitia, Semi Ikra Anggara, bahwa acara ini digagas oleh Suprapto Suryodarmo (Alm) dan Umar Ahmad.

“Suprapto Suryodarmo adalah seniman yang dikenal luas melalui sebuah metode performance yang bernama “Joget Amerta”. Sebagai metode olah gerak, Joget Amerta menekankan pada pencarian ke dalam (inner), dari kedalaman diri lalu membangun kesadaran akan hubungan dengan lingkungan, manusia dan Tuhan.

"Joget Amerta bukanlah tari dalam pengertian teknis, memiliki teknik-teknik gerak yang baku, tapi seperti apa yang dikatakan oleh maestro Sardono W Kusumo apa yang dilakukan Suparpto Suryodarmo, justru menjadi lebih penting karena dia mampu menciptakan atmosfer tari. Sebagian orang menyebut Joget Amerta sebagai meditasi gerak,” kata Semi.

Sedangkian Umar Ahmad, lanjut Semi, adalah Bupati Tubaba, yang memiliki visi menjadikan Tubaba sebagai satu wilayah yang memiliki atmosfer kebudayaan sekaligus wilayah yang memiliki wawasan ekologis. Dia percaya bahwa melalui pendidikan kesenian dan lingkungan manus. (A. Terpilih/*)

Tag : #Tulang Bawang Barat #Lampung