bisnis

Program Swasembada Bawang 2018 di Lampung Barat Gagal Total

penulis: Admin | 6 May 2019 19:50 WIB
editor:


Foto : Ilustrasi
Foto : Ilustrasi

 Lampung Barat, Kejarfakta.co - Program swasembada bawang kementerian pertanian yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi Lampung gagal total. Akibatnya, di saat harga komoditas bawang mengalami kenaikan yang signifikan seperti sekarang, program swasembada bawang turut menjadi faktor melonjaknya harga bawang. Sebab, seandainya program yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah tersebut berhasil, maka masyarakat tidak harus menjadi korban mahalnya bawang yang diimpor pemerintah.

Gagalnya program bantuan bibit bawang yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti bibit terlalu muda, bibit busuk dan tidak sesuai dengan tempat tanam, menjadi pertanyaan besar seperti apa perencanaan yang dilakukan pemerintah. Pasalnya untuk menunjang jalannya program tersebut, pemerintah juga menganggarkan dana yang cukup besar baik dari kegiatan bimbingan teknis kepada kelompok tani, sarana dan prasarana yang meliputi pupuk, pestisida dan alat-alat pertanian lainnya.

Besaran dana yang dianggarkan untuk program bantuan bibit bawang tersebut cukup fantastis. Untuk provinsi Lampung di tahun 2018 saja mencapai 19,8 miliar. Selama lima tahun dari tahun 2015, total bantuan sebesar 31,7 miliar.

Lampung Barat sendiri pada tahun 2018 total bantuan sebesar 2,3 miliar, dengan rincian bawang merah 30 hektar dan bawang putih 20 hektar. Sementara untuk tahun 2019 bantuan bibit bawang direncanakan naik sebanyak 70 hektar, dengan rincian 50 hektar bawang putih dan 20 hektar bawang merah.

Perihal harga bawang yang naik secara signifikan, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Lambar, Sri Hartati membenarkan kenaikan harga bawang putih dan bawang merah di kabupaten Lambar melonjak hingga 100 persen.

Sri mengaku, kenaikan harga bawang merah dan putih tidak hanya terjadi di Lambar saja melainkan hampir di semua wilayah terutama di Provinsi Lampung. Karena pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak provinsi dan beberapa kabupaten lainnya bahwa semua hampir sama.

"Saat ini untuk harga bawang Merah mencapai angka 50-60 ribu per kilo, yang sebelumnya hanya berkisar di angka 25-30 ribu. Sedangkan bawang putih dari harga biasanya 20-25 ribu kini menjadi 45-50 ribu per kilonya," ucap Sri saat ditemui di ruangannya, Senin (6/5/19).

Sementara itu, salah satu ketua kelompok tani di Lampung Barat Ari Setiawan mengatakan, gagal panen di Lampung Barat terjadi secara menyeluruh. Hanya dalam tempo sebulan bibit bawang dari pemerintah lenyap.

"Kita sudah berkoordinasi dengan kelompok-kelompok tani yang lain dan semuanya gagal. Boro-boro mau panen, untuk nyambel saja tidak bisa. Memang awalnya setelah ditanam kelihatan bagus, tapi setelah sebulan bibit seperti disiram air panas dan nampaknya bibit itu masih terlalu muda," ungkap Ari.

Dilain pihak, Pemerintah daerah Lampung Barat selaku pelaksana program bantuan bibit bawang melalui Kepala Bidang Hortikultura Patoni, SH., Dinas Hortikultura dan Ketahanan Pangan membenarkan adanya gagal panen bawang.

"Memang ada laporan kegagalan dari kelompok tani, tapi ada juga yang berhasil panen walau memang tidak sesuai dengan target yang telah direncanakan," kata Patoni, Kamis (2/4/19).

Lucunya, saat dimintai data program bantuan bibit bawang tahun 2018, Patoni, SH., dan beberapa stafnya mengaku tidak tahu. Bahkan setelah dicari-cari data tersebut tidak ada.

"Saya inikan baru disini, baru masuk Agustus tahun 2018 kemaren, jadi kurang tahu saya untuk program 2018 itu," jelas Patoni sambil bertanya kepada salah satu stafnya.

Patoni menyarankan untuk menghubungi kepala seksi yang membidangi program tersebut, namun sayangnya pejabat yang dimaksud tidak berada ditempat.

Ditambahkan Patoni, program bantuan bibit bawang untuk tahun anggaran 2019 belum berjalan dan masih dalam tahap perencanaan dan administrasi.

"Untuk tahun 2019 masih dalam tahap sosialisasi pembinaan, tetapi untuk distribusi bibit belum ada gambaran. Tapi kita sudah mengajukan proposal ke provinsi," pungkasnya.

Perencanaan menjadi faktor penentu keberhasilan program yang dicanangkan pemerintah pusat untuk menutup keran impor bawang pada tahun 2021. Pendampingan oleh petugas lapang serta penyuluhan di tingkat kabupaten secara berkala juga berperan penting jika pemerintah menginginkan keberhasilan sebuah program. Sebab bila semua tahapan sudah dilaksanakan dengan mengacu pada rencana dan prosedur yang telah dibuat, niscaya tidak ada lagi kata gagal untuk program yang dijalankan pemerintah dengan anggaran yang signifikan. Sehingga masyarakat tidak selalu menjadi korban dari sebuah kebijakan pemerintah yang gagal. (Ade Irawan)

Tag : #Lampung Barat#Lampung